- Back to Home »
- news »
- Jepang Ubah Paradigma Tentang Ekspor
Dari tokyo dilaporkan, pemerintah Jepang tingkatkan penilaian ekspor
untuk bulan April. Ini merupakan pertama kalinya dilakukan pemerintah
dalam hampir setahun belakangan. Akibat melemahnya yen, menandakan bahwa
ekspor ke Amerika Serikat dan Eropa akan memberikan angka yang
menggembirakan. Pemerintah juga menambah prospek belanja konsumen untuk
pertama kalinya dalam dua bulan, didukung membaiknya sentimen dan
meningkatnya belanja rumah tangga.
Seperti dilansir analisadaily, Sabtu (13/4/2013), Pejabat
Jepang masih mempertahankan prediksi terhadap perekonomian tanpa
mengalami perubahan sama sekali untuk bulan April ini. Namun, dikatakan
masih ada beberapa sektor yang lemah. Meski begitu, Jepang
mengindikasikan adanya kemajuan yang terus menerus diperjuangkan oleh
pejabat negara. Bank of Japan.
Membuat pasar keuangan global
tertegun pada pekan lalu dengan pengumuman penyuntikan dana sekitar 1,4
triliun dolar AS ke dalam perekonomian guna menaklukkan fase deflasi
yang berkepanjangan.
Ekspektasi pelonggaran moneter super agresif itu melemahkan yen yang
mendorong lonjakan saham, member dukungan bagi perusahaan serta
meningkatkan sentimen konsumen. “Mengingat melambungnya ekspor dan
dampak kebijakan fiskal dan moneter, kami berharap perekonomian terus
pulih seiring membaiknya sentimen,” kata Kantor Kabinet dalam laporan
ekonomi bulanan. “Ekonomi luar negeri tetap ada risiko. Kita juga perlu
berhati-hati tentang upah dan pasar tenaga kerja.”
Selama tiga bulan terakhir pemerintah telah mengupgrade penilaian
ekonomi, dan itu merupakan pertama kalinya sejak serangkaian tiga
upgrade berturut-turut, yang berakhir pada bulan Juli 2009.
Perdana
Menteri Shinzo Abe, yang memimpin Partai Liberal Demokrat meraih
kemenangan dalam pemilu pada bulan Desember, telah menyerukan
pelonggaran moneter yang agresif dan pengeluaran fiskal yang berat guna
mengalahkan deflasi. Pemerintah mengemukakan ekspor telah keluar dari
posisi terbawahnya, yang mulai ditingkatkan sejak bulan lalu, ketika
pemerintah menyatakan ekspor menurun secara bertahap. Ini menandai
lonjakan pertama sejak Mei 2012.