- Back to Home »
- news »
- Aussie Terjungkal, Yen Reli
Posted by : Admin
Selasa, 16 April 2013
Jakarta, Strategydesk - Aussie menjadi
mata uang paling merana dengan langsung jatuh ke level terendah dalam
sebulan terakhir menyusul anjloknya harga komoditas dan ledakan bom di
Boston.
Komoditas global bertumbangan menyusul aksi jual besar-besaran yang membawa emas ke level terendah dalam dua tahun terakhir. Emas jatuh sampai ke level $1.321 karena aksi jual menyusul data ekonomi China yang buruk. Sebenarnya, penurunan emas sudah dimulai sebelum data China, kejatuhan semakin dalam karena data itu.
Kemarin, perlambatan ekonomi China menambah keraguan akan tingkat pemulihan ekonomi global, memicu pemikiran adanya ancaman deflasi. Itu juga menimbulkan kekhawatiran konsumen China akan mengurangi pembelian emas. Selain emas, minyak juga mengalami kejatuhan yang dalam. Sebagai mata uang komoditas, aussie terkena imbasnya. Data ekonomi China juga turut berperan atas kejatuhan itu, mengingat ekonomi terbesar kedua itu merupakan mitra dagang terbesar Australia.
Faktor lain yang menekan aussie adalah RBA Minutes yang menunjukkan para anggota dewan mengatakan prospek inflasi memberinya ruang untuk memangkas suku bunga lagi. Dalam minutes itu disebutkan para anggota dewan juga melihat nilai tukar terlalu tinggi dan perlunya membantu industri di luar pertambangan.
Sentimen pasar semakin jatuh menyusul ledakan bom di Boston. Kepolisian setempat menyebut ledakan itu menewaskan dua orang dan melukai 23 lainnya. Penyebab ledakan itu belum jelas, tapi memicu kekhawatiran itu tindakan terorisme. Informasi lebih lanjut mengenai bagaimana ledakan itu terjadi menjadi faktor yang dapat menggerakan pasar keuangan dunia hari ini.
Aussie diperdagangkan di $1,0330, sedikit rebound setelah sempat jatuh sampai ke $1,0287 semalam, terendah sejak 14 Maret, namun berhasil ditutup di $1,0310. Aussie mencoba bangkit setelah anjlok, dengan level $1,0300 menjadi support terdekat. Bila sentimen membaik, pergerakan ke atas menuju 1,0360, selanjutnya mencoba ke $1,0380.
Di tengah ambruknya harga, yen menjadi primadona dengan menguat tajam atas rival utama, termasuk dollar dan euro. Pasar juga enggan menjual yen menjelang pertemuan G-20 di mana diperkirakan bakal ada negara yang mengeluhkan kebijakan Jepang. Yen kini berada di 97,06 per dollar, setelah sempat menyentuh 95,67, tertinggi dalam dua minggu. Terhadap euro, yen di 126,53, setelah sempat menyentuh 124,93.
Even terjadwal hari ini antara lain inflasi zona euro, sentimen investor Jerman, inflasi dan housing starts AS. Sentimen investor Jerman hasil survei ZEW diperkirakan turun ke 41 di Maret dari 48,5 di Februari. Bila benar buruk, dapat memberi tekanan ke euro.
Komoditas global bertumbangan menyusul aksi jual besar-besaran yang membawa emas ke level terendah dalam dua tahun terakhir. Emas jatuh sampai ke level $1.321 karena aksi jual menyusul data ekonomi China yang buruk. Sebenarnya, penurunan emas sudah dimulai sebelum data China, kejatuhan semakin dalam karena data itu.
Kemarin, perlambatan ekonomi China menambah keraguan akan tingkat pemulihan ekonomi global, memicu pemikiran adanya ancaman deflasi. Itu juga menimbulkan kekhawatiran konsumen China akan mengurangi pembelian emas. Selain emas, minyak juga mengalami kejatuhan yang dalam. Sebagai mata uang komoditas, aussie terkena imbasnya. Data ekonomi China juga turut berperan atas kejatuhan itu, mengingat ekonomi terbesar kedua itu merupakan mitra dagang terbesar Australia.
Faktor lain yang menekan aussie adalah RBA Minutes yang menunjukkan para anggota dewan mengatakan prospek inflasi memberinya ruang untuk memangkas suku bunga lagi. Dalam minutes itu disebutkan para anggota dewan juga melihat nilai tukar terlalu tinggi dan perlunya membantu industri di luar pertambangan.
Sentimen pasar semakin jatuh menyusul ledakan bom di Boston. Kepolisian setempat menyebut ledakan itu menewaskan dua orang dan melukai 23 lainnya. Penyebab ledakan itu belum jelas, tapi memicu kekhawatiran itu tindakan terorisme. Informasi lebih lanjut mengenai bagaimana ledakan itu terjadi menjadi faktor yang dapat menggerakan pasar keuangan dunia hari ini.
Aussie diperdagangkan di $1,0330, sedikit rebound setelah sempat jatuh sampai ke $1,0287 semalam, terendah sejak 14 Maret, namun berhasil ditutup di $1,0310. Aussie mencoba bangkit setelah anjlok, dengan level $1,0300 menjadi support terdekat. Bila sentimen membaik, pergerakan ke atas menuju 1,0360, selanjutnya mencoba ke $1,0380.
Di tengah ambruknya harga, yen menjadi primadona dengan menguat tajam atas rival utama, termasuk dollar dan euro. Pasar juga enggan menjual yen menjelang pertemuan G-20 di mana diperkirakan bakal ada negara yang mengeluhkan kebijakan Jepang. Yen kini berada di 97,06 per dollar, setelah sempat menyentuh 95,67, tertinggi dalam dua minggu. Terhadap euro, yen di 126,53, setelah sempat menyentuh 124,93.
Even terjadwal hari ini antara lain inflasi zona euro, sentimen investor Jerman, inflasi dan housing starts AS. Sentimen investor Jerman hasil survei ZEW diperkirakan turun ke 41 di Maret dari 48,5 di Februari. Bila benar buruk, dapat memberi tekanan ke euro.
Sumber Berita: Nanang Wahyudin-strategydesk.co.id