- Back to Home »
- news »
- Yen Menuju 100/Dolar?
Jakarta, Strategydesk - Yen menyentuh level terendah dalam 4 tahun
terakhir atas dollar, melanjutkan kejatuhannya karena laporan BOJ akan
segera memulai pembelian obligasi, beberapa hari setelah BOJ mengumumkan
stimulus baru.
Kejatuhan yen yang semakin dalam itu datang menyusul
laporan dari harian Nikkei bahwa BOJ minggu ini akan membeli obligasi
pemerintah dengan tenor antara lima dan 10 tahun hingga 1,2 triliun yen.
Langkah ini merupakan bentuk keputusan yang diumumkan Kamis lalu,
stimulus agresif untuk mengentaskan deflasi.
BOJ meluncurkan
stimulus moneter besar, sebagai cara untuk mengentaskan deflasi tahunan,
keputusan yang menekan yield obligasi. Gubernur Haruhiko Kuroda, dalam
rapat pertamanya, mengumumkan komitmen untuk melakukan pembelian
obligasi tak terbatas (open ended) dan mengatakan jumlah uang kertas
bisa mencapai 270 triliun yen pada akhir 2014 agar mencapai target
inflasi 2% dalam dua tahun. Melalui skema itu, BOJ akan membeli 7,5
triliiun yen obligasi pemerintah per bulan, atau 70% obligasi yang
dijual di pasar.
Para analis mengatakan banjir likuiditas yen itu
sebagian akan digunakan oleh investor Jepang untuk membeli aset
ber-yield tinggi di luar negeri. Dengan kata lain, carry trader dengan
menggunakan yen akan marak lagi, ini memberi tekanan pula ke mata uang
Jepang itu. JPMorgan, dalam laporannya menyebutkan langkah moneter
radikal BOJ itu diperlukan untuk membalikkan arah yen, dan untuk itu,
BOJ sudah berhasil.
Yen berada di 98,33 per dollar, setelah sempat
menyentuh 98,83, terendah sejak Juni 2009. Meski ada beberapa indikator
yang sudah menunjukkan kondisi jenuh beli, kondisi fundamental masih
mendukung penguatan lanjutan. Yen berpotensi menuju 100 per dollar bila
terus ada berita mengenai rencana BOJ terkait stimulusnya. Level itu
menjadi target selanjutnya bila ditutup di kisaran 98,40. Terhadap
euro, yen berada di 128,32, terendah sejak Januari 2010, dan bisa menuju
130 bila ditutup di kisaran 129.
Sementara itu, dollar justru
melemah atas mata uang lainnya karena data ketenagakerjaan AS yang
mengecewakan. Payroll hanya tumbuh 88.000 selama Maret, terendah sejak
Juni 2012. Angka itu jauh di bawah prediksi 199.000. Meski tingkat
pengangguran turun 0,1% ke 7,6%, itu lebih dikarenakan oleh berkurangnya
partisipasi pencari kerja. Indeks dollar berada di 82,66, setelah
tumbang ke 82,30 akhir pekan lalu.
Euro menguat karena data itu,
hari ini berada di $1,2991, setelah menyentuh $1,3000. Bahkan akhir
pekan lalu berhasil meraih $1,3037. Namun, dengan bayang-bayang buruknya
kondisi di Eropa, sulit bagi untuk bisa melanjutkan penguatan. Data
terjadwal hari ini adalah produksi industrial Jerman dan sentiment
investor zona euro.