- Back to Home »
- news »
- Even Penting Minggu Ini: FOMC, ECB &, Payroll
Posted by : Admin
Senin, 29 April 2013
Strategydesk – Sederetan even penting akan mewarnai pergerakan pasar
minggu ini, di antaranya rapat dua bank sentral terbesar dunia, the Fed
dan ECB.
Pernyataan dari beberapa pejabat the Fed selama Februari-Maret mengindikasikan pertimbangan perlunya moderasi dalam kebijakan moneter. Mereka tidak ingin stimulus menjadi kebablasan dan berdampak buruk dalam jangka panjang. Tapi, dengan data ekonomi di Maret dan April yang tidak sesuai harapan, bisa membuat mereka berpikir ulang untuk mengubah porsi atau masa program pembelian aset.
Contohnya PDB yang tumbuh 2,5% di kuartal pertama, di bawah prediksi 3,0%. Dengan latar belakang seperti itu, the Fed tentu tidak ingin terburu-buru secara resmi membuka kemungkinan mengurangi atau mempersingkat stimulusnya. Bahkan bukan tidak mungkin, mereka mengindikasikan kesiapan bertindak lebih agresif lagi bila diperlukan.
Sedangkan ECB semakin diperkirakan akan memangkas suku bunganya sebesar 25 bps dari 0,75%. Serangkaian data ekonomi buruk, termasuk dari Jerman, menimbulkan kekhawatiran ekonomi zona euro akan semakin terpuruk. Di saat pemerintah terbelenggu dengan penghematan, tinggal ECB yang bisa berperan untuk membantu ekonomi.
Memang, beberapa pejabat ECB menyampaikan kemungkinan memangkas rate. Mulai dari anggota dewan Jens Weidmann sampai Wakil Presiden Vitor Constancio. Ini memperkuat ekspektasi soal adanya pelonggaran kebijakan. 43 dari 69 ekonom yang disurvei Bloomberg, atau 62% responden, memperkirakan ECB bakal memangkas rate-nya. Tapi sampai saat ini Presiden Mario Draghi belum reaktif ke pasar, belum ada isyarat darinya terkait perlunya pelonggaran.
Setelah itu, perhatian tertuju ke data ketenagakerjaan AS, atau payroll. Data ini diperkirakan akan menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja sebesar 155.000 selama April. Mengingat angka di Maret yang mengecewakan, kecil kemungkinan angka di April bisa di atas prediksi. Pertumbuhan lapangan kerja menjadi indikator yang digunakan the Fed dalam menjalankan stimulusnya.
Sumber Berita: Nizar Hilmy-strategydesk.co.id
Pernyataan dari beberapa pejabat the Fed selama Februari-Maret mengindikasikan pertimbangan perlunya moderasi dalam kebijakan moneter. Mereka tidak ingin stimulus menjadi kebablasan dan berdampak buruk dalam jangka panjang. Tapi, dengan data ekonomi di Maret dan April yang tidak sesuai harapan, bisa membuat mereka berpikir ulang untuk mengubah porsi atau masa program pembelian aset.
Contohnya PDB yang tumbuh 2,5% di kuartal pertama, di bawah prediksi 3,0%. Dengan latar belakang seperti itu, the Fed tentu tidak ingin terburu-buru secara resmi membuka kemungkinan mengurangi atau mempersingkat stimulusnya. Bahkan bukan tidak mungkin, mereka mengindikasikan kesiapan bertindak lebih agresif lagi bila diperlukan.
Sedangkan ECB semakin diperkirakan akan memangkas suku bunganya sebesar 25 bps dari 0,75%. Serangkaian data ekonomi buruk, termasuk dari Jerman, menimbulkan kekhawatiran ekonomi zona euro akan semakin terpuruk. Di saat pemerintah terbelenggu dengan penghematan, tinggal ECB yang bisa berperan untuk membantu ekonomi.
Memang, beberapa pejabat ECB menyampaikan kemungkinan memangkas rate. Mulai dari anggota dewan Jens Weidmann sampai Wakil Presiden Vitor Constancio. Ini memperkuat ekspektasi soal adanya pelonggaran kebijakan. 43 dari 69 ekonom yang disurvei Bloomberg, atau 62% responden, memperkirakan ECB bakal memangkas rate-nya. Tapi sampai saat ini Presiden Mario Draghi belum reaktif ke pasar, belum ada isyarat darinya terkait perlunya pelonggaran.
Setelah itu, perhatian tertuju ke data ketenagakerjaan AS, atau payroll. Data ini diperkirakan akan menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja sebesar 155.000 selama April. Mengingat angka di Maret yang mengecewakan, kecil kemungkinan angka di April bisa di atas prediksi. Pertumbuhan lapangan kerja menjadi indikator yang digunakan the Fed dalam menjalankan stimulusnya.
Sumber Berita: Nizar Hilmy-strategydesk.co.id