- Back to Home »
- news »
- Yen Masih Melemah, Bank Of Japan Akan Umumkan Hasil Pertemuanya
Dari Tokyo dilaporkan, Ekspor Jepang pada bulan April diprediksi naik
untuk dua bulan berturut-turut, dipimpin oleh ekspor mobil dan
pemintaan peralatan elektronik di Asia.
Namun, Departeman
Keuangan Jepang juga akan menyoroti biaya yang ditimbulkan akibat
pelemahan yen, dan Jepang diprediksi mencatat defisit selama 10 bulan
berturut-turut pada bulan April. Ekonom memperkirakan kenaikan ekspor
sebesar 5.9% pada bulan April.
Seperti dilansir monexnews,
Defisit neraca perdagangan Jepang memburuk di bulan April seiring lebih
tingginya pertumbuhan impor dibandingkan dengan pertumbuhan ekspor.
Ini
merupakan defisit untuk 10 bulan berurutan dan mencerminkan efek dari
drastisnya pelemahan yen. Berlanjutnya pelemahan yen memang dapat
meningkatkan ekspor namun juga akan mendongkrak impor produk energi yang
sangat dibutuhkan oleh perekonomian Jepan.
Defisit mencapai
-¥879,9 miliar; lebih buruk dari estimasi -¥621,1 miliar dan publikasi
Maret -¥362,4 miliar. Ekspor mencatatkan pertumbuhan 3,8% untuk bulan
April; lebih baik dari publikasi sebelumnya yang hanya naik 1,1%. Impor
meningkat 9,4%; lebih tinggi dari publikasi Maret 5,5%.
Memburuknya kinerja ekspor tentunya akan memberikan dukungan bagi
Perdana Menteri Shinzo Abe untuk mengaktifkan kembali program energi
nuklir Jepang.
Mayoritas pembangkit listrik nuklir Jepang kini
tidak berfungsi pasca tragedi Fukushima yang telah membuat masyarakat
Jepang khawatir dengan keselamatan. Jika semua pembangkit listrik dapat
diaktifkan kembali maka ini tentunya dapat mengurangi ketergantungan
energi Jepang.
Menteri ekonomi Jepang berharap nilai tukar akan stabil di level yang dapat menyeimbangi akan dampak terhadap ekspor dan impor.
"Saya
berharap nilai tukar akan stabil di level yang dapat menopang
perekonomian Jepang," tutur Menteri Ekonomi Akira Amari. "Saya berharap
pasar akan menemukan nilai tukar yang dapat menyeimbangkan efek yang
dihasilkan terhadap ekspor dan impor." Ketika ditanya atas komentarnya
mengenai penguatan yen yang telah dikoreksi sebagian besar, Amari hanya
mengatakan,"Saya tidak akan berkomentar apakah yen telah menyelesaikan
proses koreksi, atuap dimana level koreksi yang sesuai."
Komentar Amari muncul setelah USD/JPY menembus level 103 untuk pertama
kalinya dalam 4 tahun pada hari Jumat. Dengan nilai tukar yen yang kini
berada dekat level sebelum krisis maka muncul kekhawatiran akan dampak
yang bisa terjadi jika nilai tukar terus melemah. Walaupun pelemahan yen
dapat berdampak positif terhadap laba eksportir namun ini juga
meningkatkan biaya impor.
Hari Rabu ini , BOJ akan mengumumkan
hasil rapat mereka. Para ekonom tidak mengaharapkan perubahan kebijakan
yang signifikan setelah bulan lalu BOJ mengumumkan langkah-langkah
radikal untuk membantu menghidupkan kembali perekomomian dan mengakhiri
deflasi selama dua dekade.