- Back to Home »
- news »
- Dollar Terjungkal Jelang the Fed
Jakarta, Strategydesk – Dollar terjungkal ke level terendah dalam dua
bulan terakhir hari ini karena ekspetasi the Fed akan mempertahankan
stimulus moneternya, bahkan ada peluang menambahnya.
Padahal sebagian data ekonomi AS bagus semalam, yaitu harga rumah dan
sentimen konsumen. Indeks harga rumah S&P/Case-Shiller naik 1,24%
selama Februari, lebih besar dari prediksi 0,9%. Untuk tahunan bahkan
naik 9,3%, di atas prediksi 9,0%. Sentimen konsumen versi Conference
Board naik ke 68,1 di April, melebihi prediksi 61,0, dari 61,9 di Maret.
Sayangnya pasar lebih terfokus ke aktivitas bisnis Midwest yang
kontraksi. Indeks PMI Chicago turun ke 49,0 di April dari 52,4 di Maret.
Data ini datang menjelang hasil rapat reguler the Fed nanti malam, yang
diperkirakan akan mempertahankan kebijakan akomodatifnya. The Fed
hampir dipastikan tetap memberlakukan program pembelian aset $85 miliar
per bulan.
Namun tidak sedikit pula yang memperkirakan the Fed bisa saja membuka
peluang menambah jumlahnya untuk membantu pemulihan ekonomi AS yang
terlihat masih lemah. Kinerja ekonomi yang tidak sesuai harapan dan
perlambatan inflasi memicu spekuasi the Fed tidak hanya mengakhiri
perdebatan soal mengurangi atau mempersingkat Quantitative Easing (QE),
tapi juga mulai mempertimbangkan opsi untuk menambah atau
memperpanjangnya.
Kalau sampai the Fed menempuh hal itu, maka membuka kemungkinan dollar
akan digunakan sebagai mata uang pembiayaan atau carry trade, bersama
yen. Sebelum keputusan the Fed, ada dua data penting yang bakal menyita
perhatian, yaitu ADP Employment Change dan indeks manufaktur ISM. Data
ADP merupakan gambaran awal laporan payroll Jumat nanti.
Dollar berada di 81,73 di Asia hari ini, dengan sempat jatuh ke 81,61
semalam, terendah sejak 28 Februari. Namun bila melihat grafik bulanan,
indeks dollar saat ini sudah menembus 38,2% retracement dari penguatan 1
Januari-1 April di 81,77, dengan 50%-nya di 81,23. Dollar melemah
terhadap yen sampai ke 96,98 semalam, kini berada di 97,27, di bawah MA
25 harinya. Support terdekat ada di 96,88. Atas franc, dollar melemah
tajam sampai ke 0,9278, terendah sejak 19 April, kini berada di 0,9295.
Mata uang lain juga turut menguat atas dollar. Euro berhasil menguat
meski data Eropa buruk dan menambah tekanan ke ECB untuk memangkas suku
bunga. Euro berhasil menyentuh level $1,3183 semalam, kini bertengger di
$1,3165. Euro kini kembali menghadapi resistance di $1,3200, level yang
gagal dicapainya bulan lalu. Penembusan ke level itu bisa terjadi bila
the Fed menyampaikan pernyataan yang dovish.
Sterling juga turut menguat, mempertahankan posisinya di kisaran $1,52.
The cable perlahan-lahan menyesuaikan posisinya dari keterpurukan di
two-year-low yang dicatat dua bulan lalu. Dari grafik mingguan, terlihat
sterling kini berusaha mendekati 50% retracement kejatuhan 30 Desember
2012-10 Maret 2013 di $1,5600. Aussie juga reli, namun tergerus karena
data manufaktur China yang buruk. Posisinya kini di $1,0367, di atas
38,2% retracement kejatuhan 11-23 April, kini berusaha menuju 50% di
$1,0400.