Aussie Melemah, The Fed Boston Berharap Pengangguran Bisa Berkurang ,
By : UnknownAussie melemah versus Dollar AS, setelah International Monetary Fund memangkas proyeksi tingkat pertumbuhan ekonomi untuk Cina.
Nilai tukar Dollar Australia ini, sudah anjlok sebanyak 8% terhadap Dollar Amerika dari level tertingginya di bulan April lalu. Kinerja kurs domestik yang kurang bagus dapat menyurutkan rencana penurunan suku bunga dalam waktu dekat. Dua pekan lalu, Aussie masih kuat dia atas level paritas sebelum akhirnya tergerus oleh rally dollar.
Kondisi bahkan diperburuk oleh indikasi penurunan ekonomi China dan merosotnya harga komoditi. RBA sendiri telah memangkas suku bunga sebanyak total 200 basis poin sejak akhir tahun 2011 guna memudahkan aktivitas pelaku bisnis dan konsumen.
Mengingat selama ini pihak eksportir terkendala oleh memburuknya daya saing produk di luar negeri, sementara sektor pertambangan juga sedang lesu. Atas dasar itulah, RBA bisa jadi tidak ingin melanjutkan pemangkasan bunga karena kurs Aussie berpeluang turun lebih rendah lagi.
Nilai tukar Aussie sudah melemah 5.6% sejak RBA memangkas bunga seperempat persen ke level rendah 2.75% pada 7 Mei. AUD/USD terpantau di kisaran 0.9569 pada hari Rabu ini dan pasca menembus level terendah di 0.9543.
Sentimen terhadap Dollar Australia berbalik bearish bulan ini sehingga beberapa pengamat memperkirakan depresiasi maksimal sampai 0.80 per Dollar. Pun demikian, kurs rendah itu masih lebih tinggi 22% dibandingkan empat tahun silam.
Sementara dari Amerika dilaporkan, Presiden Federal ReserveBank of Boston, Eric Rosengren mengatakan bahwa The Fed harus menekan dengan stimulus yang berada di rekornya untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, mengurangi tingkat pengangguran yang di level 7.5 % dan meningkatkan inflasi yang berjalan di bawah 2%, demikian seperti dilansir Monexnews.
Sementara pasar tenaga kerja yang telah membaik,”akomodasi yang signifikan masih tepat untuk saat ini,” ujar Rosengren pada hari ini dalam pidatonya di Minneapolis.
”Jika data ekonomi yang masuk tidak mencerminkan perbaikan yang konsisten dengan kedua faktor dari kebijakan kami, saya percaya The Fed seharusnya bersedia untuk meningkatkan pembelian asetnya,” katanya, mengacu pada tujuan bank sentral untuk mencapai harga yang stabil dan membaiknya pasar kerja.
Rosengren konsisten mendukung stimulus The Fed yang berada di rekor tertinggi saat ini. Dia tidak setuju pada pertemuan FOMC tahun 2007 karena dia lebih menyukai kebijakan akomodatif.
Nilai tukar Dollar Australia ini, sudah anjlok sebanyak 8% terhadap Dollar Amerika dari level tertingginya di bulan April lalu. Kinerja kurs domestik yang kurang bagus dapat menyurutkan rencana penurunan suku bunga dalam waktu dekat. Dua pekan lalu, Aussie masih kuat dia atas level paritas sebelum akhirnya tergerus oleh rally dollar.
Kondisi bahkan diperburuk oleh indikasi penurunan ekonomi China dan merosotnya harga komoditi. RBA sendiri telah memangkas suku bunga sebanyak total 200 basis poin sejak akhir tahun 2011 guna memudahkan aktivitas pelaku bisnis dan konsumen.
Mengingat selama ini pihak eksportir terkendala oleh memburuknya daya saing produk di luar negeri, sementara sektor pertambangan juga sedang lesu. Atas dasar itulah, RBA bisa jadi tidak ingin melanjutkan pemangkasan bunga karena kurs Aussie berpeluang turun lebih rendah lagi.
Nilai tukar Aussie sudah melemah 5.6% sejak RBA memangkas bunga seperempat persen ke level rendah 2.75% pada 7 Mei. AUD/USD terpantau di kisaran 0.9569 pada hari Rabu ini dan pasca menembus level terendah di 0.9543.
Sentimen terhadap Dollar Australia berbalik bearish bulan ini sehingga beberapa pengamat memperkirakan depresiasi maksimal sampai 0.80 per Dollar. Pun demikian, kurs rendah itu masih lebih tinggi 22% dibandingkan empat tahun silam.
Sementara dari Amerika dilaporkan, Presiden Federal ReserveBank of Boston, Eric Rosengren mengatakan bahwa The Fed harus menekan dengan stimulus yang berada di rekornya untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, mengurangi tingkat pengangguran yang di level 7.5 % dan meningkatkan inflasi yang berjalan di bawah 2%, demikian seperti dilansir Monexnews.
Sementara pasar tenaga kerja yang telah membaik,”akomodasi yang signifikan masih tepat untuk saat ini,” ujar Rosengren pada hari ini dalam pidatonya di Minneapolis.
”Jika data ekonomi yang masuk tidak mencerminkan perbaikan yang konsisten dengan kedua faktor dari kebijakan kami, saya percaya The Fed seharusnya bersedia untuk meningkatkan pembelian asetnya,” katanya, mengacu pada tujuan bank sentral untuk mencapai harga yang stabil dan membaiknya pasar kerja.
Rosengren konsisten mendukung stimulus The Fed yang berada di rekor tertinggi saat ini. Dia tidak setuju pada pertemuan FOMC tahun 2007 karena dia lebih menyukai kebijakan akomodatif.
Tag :
news,
Dollar Rebound, Data AS Jadi Fokus
By : UnknownJakarta, Strategydesk – Dollar rebound atas rival utamanya hari ini di
Asia setelah perdagangan sepi karena tutupnya pasar AS dan Inggris.
Fokus kini tertuju ke data ekonomi AS, yang diharapkan dapat menjadi
penentu pergerakan.
Akhir pekan panjang di AS dan Inggris mengurangi dorongan spekulatif dari pasar mata uang. Tapi situasi ini segera berakhir dan pasar akan kembali ke volatilitas dan fluktuasi yang terlihat seperti minggu lalu, ketika muncul kesimpangsiuran mengenai keberlangsungan stimulus the Fed. Namun pertanyaannya, apakah pasar masih bimbang dengan prospek kebijakan the Fed atau mulai yakin stimulus itu tetap berjalan.
Minggu lalu, muncul ekspektasi the Fed bakal mengurangi stimulusnya beberapa bulan lagi. Memang selama ini data ekonomi AS bagus, memperkuat ekspektasi itu. Tapi, pasar kini menyadari bahwa hal itu tidak akan dilakukan dalam rapat Juni nanti. Meski demikian, dollar tetap bisa menguat karena pandangan ekonomi AS tetap lebih unggul dari negara maju lainnya, seperti Eropa dan Inggris. Dengan itu, pasar tetap melihat the Fed akan menjadi bank sentral pertama yang melakukan pengetatan.
Dalam memproyeksikan pergerakan selanjutnya, penting untuk melihat katalis fundamental yang mungkin datang. Data ekonomi AS nanti malam antara lain sentimen konsumen, indeks manufaktur Richmond, indeks manufaktur Dallas dan indeks harga rumah S&P/Case-Shiller. Sentimen konsumen diperkirakan naik ke 71 di Mei dari 68,1 di April. Penting untuk mengetahui sejauh mana data-data itu memberi gambaran mengenai kondisi ekonomi AS.
Indeks dollar berada di 83,94, setelah menyentuh 84,04. Indesk itu bergerak cukup fluktuatif minggu lalu. Sempat meraih level tertinggi dalam tiga tahun di 84,53, akhirnya melemah sampai 83,45. Kejatuhan tajam ini mencerminkan koreksi harga setelah kenaikan selama ini. Level 84 menjadi resistance terdekat, untuk support di 83,40.
Dollar berhasil rebound atas yen dan franc. Terkoreksi sampai 100,65 akhir pekan lalu, dollar kini rebound 0,8% ke 101,85. Bila berhasil menembus lagi level 102, maka greenback berpeluang menuju 103-103,20. Terhadap franc, dollar menguat 0,5% ke 0,9675. Resistance terdekat kini di 0,9700, yang harus ditembus untuk bisa ke 0,9720.
Mengenai mata uang lain, euro melanjutkan koreksinya ke $1,2895, atau sekitar 0,4%. Pasar belum mendapat alasan untuk mendorong euro karena tidak ada berita baru yang keluar dari Eropa. Sterling terlihat konsolidasi, sulit menembus $1,51 tapi juga mampu bertahan di $1,50. Aussie terlihat masih bearish, masih gagal meraih level 0,9700 dan terancam menuju low 23/5 di 0,9590, atau terendah dalam 11 bulan.
Akhir pekan panjang di AS dan Inggris mengurangi dorongan spekulatif dari pasar mata uang. Tapi situasi ini segera berakhir dan pasar akan kembali ke volatilitas dan fluktuasi yang terlihat seperti minggu lalu, ketika muncul kesimpangsiuran mengenai keberlangsungan stimulus the Fed. Namun pertanyaannya, apakah pasar masih bimbang dengan prospek kebijakan the Fed atau mulai yakin stimulus itu tetap berjalan.
Minggu lalu, muncul ekspektasi the Fed bakal mengurangi stimulusnya beberapa bulan lagi. Memang selama ini data ekonomi AS bagus, memperkuat ekspektasi itu. Tapi, pasar kini menyadari bahwa hal itu tidak akan dilakukan dalam rapat Juni nanti. Meski demikian, dollar tetap bisa menguat karena pandangan ekonomi AS tetap lebih unggul dari negara maju lainnya, seperti Eropa dan Inggris. Dengan itu, pasar tetap melihat the Fed akan menjadi bank sentral pertama yang melakukan pengetatan.
Dalam memproyeksikan pergerakan selanjutnya, penting untuk melihat katalis fundamental yang mungkin datang. Data ekonomi AS nanti malam antara lain sentimen konsumen, indeks manufaktur Richmond, indeks manufaktur Dallas dan indeks harga rumah S&P/Case-Shiller. Sentimen konsumen diperkirakan naik ke 71 di Mei dari 68,1 di April. Penting untuk mengetahui sejauh mana data-data itu memberi gambaran mengenai kondisi ekonomi AS.
Indeks dollar berada di 83,94, setelah menyentuh 84,04. Indesk itu bergerak cukup fluktuatif minggu lalu. Sempat meraih level tertinggi dalam tiga tahun di 84,53, akhirnya melemah sampai 83,45. Kejatuhan tajam ini mencerminkan koreksi harga setelah kenaikan selama ini. Level 84 menjadi resistance terdekat, untuk support di 83,40.
Dollar berhasil rebound atas yen dan franc. Terkoreksi sampai 100,65 akhir pekan lalu, dollar kini rebound 0,8% ke 101,85. Bila berhasil menembus lagi level 102, maka greenback berpeluang menuju 103-103,20. Terhadap franc, dollar menguat 0,5% ke 0,9675. Resistance terdekat kini di 0,9700, yang harus ditembus untuk bisa ke 0,9720.
Mengenai mata uang lain, euro melanjutkan koreksinya ke $1,2895, atau sekitar 0,4%. Pasar belum mendapat alasan untuk mendorong euro karena tidak ada berita baru yang keluar dari Eropa. Sterling terlihat konsolidasi, sulit menembus $1,51 tapi juga mampu bertahan di $1,50. Aussie terlihat masih bearish, masih gagal meraih level 0,9700 dan terancam menuju low 23/5 di 0,9590, atau terendah dalam 11 bulan.
Tag :
news,
China Hadapi Tantangan Berat Seiring Melambatnya Pertumbuhan
By : UnknownStrategydesk – Perdana Menteri China Li Keqiang mengatakan negaranya
sedang menghadapi “tantangan besar” dalam membuka ekonominya dan upaya
reformasi yang dijalankan pemerintah mungkin harus dibarengi dengan
perlambatan pertumbuhan.
Berbicara di Berlin dalam kunjungan luar negeri pertamanya, Li mengatakan pemerintah akan terus berorientasi pasar untuk mencapai pertumbuhan stabil meski setelah ekonomi melambat di kuartal pertama. “Seiring dengan bertambahnya ukuran ekonomi, China memasuki pertumbuhan yang logis,” kata Li dalam forum bisnis Jerman-China kemarin. Ia menyebut pertumbuhan 7,7% di kuartal pertama masih sesuai dengan rencana makroekonomi.
Li mengunjungi Jerman untuk meredam perselisihan dagang dengan Eropa dan mempererat hubungan sembari mengisyaratkan pemerintahnya siap mentoleransi perlambatan untuk menghindari degradasi lingkungan. Menurutnya, pasar terbuka mengharuskan China lebih berinteraksi dengan negara lain, memberi perlakukan yang sama pada investor asing, dan melindungi hak atas kekayaaan intelektual.
Sebagai Ketua Dewan Negara, LI telah menyetyujui serangkaian langkah untuk mengurangi peran pemerintah dalam ekonomi dan membuka industri. Saat di Jerman, Li bertemu dengan Kanselir Angela Merkel untuk menyelesaikan masalah perdagangan dengan Eropa.
Berbicara di Berlin dalam kunjungan luar negeri pertamanya, Li mengatakan pemerintah akan terus berorientasi pasar untuk mencapai pertumbuhan stabil meski setelah ekonomi melambat di kuartal pertama. “Seiring dengan bertambahnya ukuran ekonomi, China memasuki pertumbuhan yang logis,” kata Li dalam forum bisnis Jerman-China kemarin. Ia menyebut pertumbuhan 7,7% di kuartal pertama masih sesuai dengan rencana makroekonomi.
Li mengunjungi Jerman untuk meredam perselisihan dagang dengan Eropa dan mempererat hubungan sembari mengisyaratkan pemerintahnya siap mentoleransi perlambatan untuk menghindari degradasi lingkungan. Menurutnya, pasar terbuka mengharuskan China lebih berinteraksi dengan negara lain, memberi perlakukan yang sama pada investor asing, dan melindungi hak atas kekayaaan intelektual.
Sebagai Ketua Dewan Negara, LI telah menyetyujui serangkaian langkah untuk mengurangi peran pemerintah dalam ekonomi dan membuka industri. Saat di Jerman, Li bertemu dengan Kanselir Angela Merkel untuk menyelesaikan masalah perdagangan dengan Eropa.
Tag :
news,
Stiglitz: Terlalu Dini Stimulus the Fed Dikurangi
By : UnknownSaham AS jatuh dan obligasi merosot setelah pasar keuangan menginterpretasikan pernyataan Ketua the Fed Ben Bernanke dan FOMC Minutes sebagai indikasi program pembelian aset bakal dikurangi. Padahal Bernanke mengatakan program pembelian bisa saja dikurangi kalau ekonomi terus membaik, namun pengetatan dini berbahaya bagi pemulihan.
Akhir-akhir ini, sebagian besar data ekonomi China menunjukkan perbaikan kondisi ekonomi. Data Jumat lalu menunjukkan durable goods orders naik 3,3% selama April, lebih besar dari prediksi 1,5%. Data ini menjadi pertanda pertumbuhan akan semakin membaik di kuartal kedua. Meski demikian, para pengamat melihat diperlukan waktu agar pertumbuhan bisa kembali ke level pra-krisis.
Stiglitz, yang juga mantan ekonom Bank Dunia, mengatakan faktor yang membuat perdebatan mengenai stimulus the Fed adalah sedikitnya bukti bahwa (stimulus) itu bermanfaat bagi ekonomi. Stimulus itu lebih terlihat menyebabkan penggelembungan harga aset dan pelemahan dollar, yang membantu ekspor AS.
Tag :
news,
Perkiraan market pekan depan
By : UnknownAUDUSD
masih terus tergerus sentimen bearish selama tiga pekan berturut turut. Jika kita ingat tiga pekan lalu AUDUSD masih berada di area 1.0300 namun saat ini sudah jauh jatuh menyentuh harga terendah pada angka 0.9592. AUDUSD sempat menunjukan pemulihan yang kelihatannya dapat membalikan keadaan pada hari kamis lalu. Namun ternyata dengan cepat juga AUDUSD kembali turun pada hari Jumat. Selain melanjutkan bear nya secara teknikal, AUD juga terbebani dengan memburuknya manufaktur partner dagang terbesarnya, China. Indeks Manufaktur China turun dibawah angka 50 ke level 49.6 setelah sebelumnya di prediksi akan meningkat sebesar 50.5. Penurunan terendah dalam 7 bulan terakhir ini menambah kekhawatiran akan melemahnya ekspor Australia yang menjadi andalan perekonomian Australia. Dari segi sentiment konsumer Australia juga cukup mengecewakan dimana untuk pertama kalinya sejak 2012 indeks indeks ini bergerak dibawah level 100 mencapai level 97.6 pada bulan Mei ini. Ini menandakan semakin pesimisnya konsumen Australia melihat keadaan perekonomian saat ini. Namun demikian kali ini ada yang unik terhadap pergerakan AUDUSD. Apakah dengan keadaan ini AUDUSD dapat melakukan rebound kenaikannya?
GBPUSD
XAUUSD
masih terus tergerus sentimen bearish selama tiga pekan berturut turut. Jika kita ingat tiga pekan lalu AUDUSD masih berada di area 1.0300 namun saat ini sudah jauh jatuh menyentuh harga terendah pada angka 0.9592. AUDUSD sempat menunjukan pemulihan yang kelihatannya dapat membalikan keadaan pada hari kamis lalu. Namun ternyata dengan cepat juga AUDUSD kembali turun pada hari Jumat. Selain melanjutkan bear nya secara teknikal, AUD juga terbebani dengan memburuknya manufaktur partner dagang terbesarnya, China. Indeks Manufaktur China turun dibawah angka 50 ke level 49.6 setelah sebelumnya di prediksi akan meningkat sebesar 50.5. Penurunan terendah dalam 7 bulan terakhir ini menambah kekhawatiran akan melemahnya ekspor Australia yang menjadi andalan perekonomian Australia. Dari segi sentiment konsumer Australia juga cukup mengecewakan dimana untuk pertama kalinya sejak 2012 indeks indeks ini bergerak dibawah level 100 mencapai level 97.6 pada bulan Mei ini. Ini menandakan semakin pesimisnya konsumen Australia melihat keadaan perekonomian saat ini. Namun demikian kali ini ada yang unik terhadap pergerakan AUDUSD. Apakah dengan keadaan ini AUDUSD dapat melakukan rebound kenaikannya?
Ada hal yang unik yang kami perhatikan terjadi saat ini pada AUDUSD. Pada
tahun 2012, AUDUSD pun mengalami penurunan yang sama dasyatnya selama
berminggu-minggu pada pertengahan tahun dimana pada tanggal 01 Juni,
pair AUDUSD menyentuh level terendahnya pada harga 0.9579. Namun
demikian setelah kelihatannya akan terus kembali tergerus kebawah,
AUDUSD ternyata secara mengejutkan beberapa hari kemudian AUDUSD
melakukan rebound keatas.
Perjalanan koreksi AUDUSD ternyata disambut baik oleh pihak investor dan
trader yang akhirnya menjadikan rally buy panjang selama 10 minggu
berturut-turut sebelum akhirnya AUDUSD melakukan koreksi kebawah. Hasilnya, AUDUSD mencapai ke level tertinggi pada harga 1.0612 pada tahun tersebut. Jika kita perhatikan pada chart maka yang terjadi saat ini mirip dengan tahun 2012. Menjelang
Juni 2013, AUDUSD selama berminggu-minggu turun dan pada pekan lalu
mencapai titik terendahnya pada angka 0.9592, hanya kurang 13 poin dari
titik terendah tahun 2012.
Saat ini AUDUSD ada di persimpangan jalan antara melanjutkan penurunannya atau melakukan rebound. Namun dapat dilihat bahwa secara historis AUDUSD mempunyai kejadian yang sama yang patut untuk menjadi perhatian. Apakah kali ini AUDUSD akan juga mengikuti rebound yang terjadi pada tahun 2012? Kemungkinan
itu selalu ada mengingat bahwa banyak pihak senang melakukan buy
terhadap AUDUSD dikarenakan perbedaan suku bunga yang dapat menjadikan
sumber panghasilan sendiri. Apa yang penting untuk diperhatikan? Perhatikan pergerakan terhadap harga 0.9579.
Jika tidak mampu menembus secara konsisten, maka potensi rebound akan
muncul dan bisa jadi sejarah mengulang kembali seperti rally bullish di
tahun 2012. Namun jika ternyata terjadi penembusan support
0.9579 dan secara konsisten bergerak dibawah harga tersebut, maka
AUDUSD akan terus jatuh lebih jauh lagi. Jika kejatuhan
ini berlanjut, maka AUDUSD masih berpotensi untuk dapat mencapai harga
0.9400 - 0.9385 dimana kisaran ini sudah hampir 2 tahun tidak pernah
ada.
EURUSD
Setelah terjembab sejak 3 pekan sebelumnya, EURUSD pekan lalu
mulai menunjukan tanda-tanda kenaikan. Euro berangkat dari
level terendahnya pada harga 1.2818 dan sempat mencapai harga tertinggi
pada angka 1.2996 setelah data-data ekonomi menunjukan perbaikan pada
pekan ini. Data-data Manufacturing PMI yang datang dari
Perancis, Jerman dan zona Euro secara keseluruhan menunjukan pertumbuhan
yang sehat yang diikuti dengan data Service PMI dari Zona Euro secara
keseluruhan yang juga membaik. Namun demikian pencapaian pekan lalu masih belum membuat Euro berada diatas angin. Pada
penutupan pasar hari Jumat kemarin EURUSD kembali turun biarpun data
Ifo Jerman menunjukan kenaikan, dimana EURUSD akhirnya ditutup pada
harga 1.2933. Secara jangka menengah Euro masih terbebani
dengan keinginan ECB untuk kembali melonggarkan kebijakan moneter mereka
menurut pejabat ECB, Peter Praet.
ECB tengah terus mengkaji beberapa kemungkinan langkah tahapan
berikutnya yang dapat mendorong lebih banyak lagi penyaluran kredit di
Zona Euro sebagai langkah untuk menghadapi resiko deflasi.
Posisi kami bagi EURUSD untuk pekan depan adalah Netral. Kendati mengalami kenaikan pada pekan lalu namun EURUSD masih gagal menembus tingkat resistance penting. Harga 1.3000 sampai saat ini masih menjadi resistance kuat yang menahan EURUSD masih di dalam koridor bearish secara teknikal. Kurangnya fundamental pendukung membuat EURUSD cenderung bergerak menuju konsolidasi. Untuk melanjutkan bullishnya ada beberapa resistance yang harus dilalui.
Resistance petama adalah 1.3000 yang jika berhasil ditembus akan segera
menemui resistance kuat pada kisaran harga 1.3035 - 1.3050. Penembusan kuat dan konsisten diatas tingkat-tingkat resistance ini penting dilakukan dengan segera. Jika gagal maka, EURUSD akan kembali mengikuti teknikal mingguannya yang masih menuju kebawah meneruskan penurunan mingguannya.GBPUSD
Pound lagi-lagi jatuh untuk pekan ke-3 berturut-turut terhadap mata uang USD.
GBPUSD kembali ambruk dari level tertingginya pada harga 1.5280 dan turun mencapai titik terendahnya pada harga 1.5013. GBPUSD
hampir saja menembus support psikologis di 1.5000 namun pada 2 hari
menjelang penutupan pasar melakukan rebound keatas dan ditutup pada
harga 1.5125. Inggris yang baru-baru ini hampir saja masuk
kedalam triple dip recession sekarang kembali dihampiri kekhawatiran
oleh karena buruknya performa data-data ekonomi yang dilaporkan. Pekan lalu serentetan data ekonomi dilaporkan memburuk. Data
CPI turun dari 2.8% ke 2.4%, data retail turun dari -0.6% ke -1.3%,
data PPI Input turun dari 0.1% ke -2.3%, data RPI turun dari 3.3% ke
2.9%, data CBI Industrial Order turun dari -25 ke -20 dan masih beberapa
data ekonomi lainnya yang turun.
Melihat performa yang seperti ini menimbulkan kekhawatiran sendiri bagi
investor dan trader yang masih lebih memilih untuk melakukan sell
terhadap pound.
Posisi kami bagi GBPUSD bagi pekan depan adalah Bearish. Momentum bearish masih menyelimuti GBPUSD. Secara
sentimen teknikal yang juga disertai fakta bahwa data-data ekonomi yang
dapat menjerumuskan Inggris kepada resesi masih membebani GBPUSD. Pekan
depan relatif sepi data ekonomi yang dapat menjadi katalis untuk
membalikan keadaan sehingga secara teknikal maka GBPUSD diperkirakan
akan kembali turun.
Untuk saat ini potensi rebound masih dapat mencapai tingkat resistance
pada kisaran harga 1.5185 - 1.5200 dan jika gagal melakukan penembusan
signifikan yang konsisten maka GBPUSD akan menuju kepada support
psikologis pada harga 1.5000. Penembusan 1.5000 akan kembali memicu sell menuju penurunan lebih besar lagi kebawah.XAUUSD
XAUUSD
dimulai turun pada awal perdagangan pekan lalu mencapai titik terendah
pada harga $1338.00 namun kemudian Gold melakukan rebound dan mencapai
titik tertinggi pada harga diatas $1400.00 yaitu $1413.50.
Ini adalah kenaikan Gold terbesar dalam satu bulan sebesar 1.5%. Dengan fakta ini apakah kemudian Gold akan kembali memulai kenaikannya mulai pekan depan? Apalagi
setelah berita dari Federal Reserve yang masih belum memangkas dana
bantuan Quantitative Easing 3 yang menurut wacana pertengahan tahun akan
dipangkas. Kami melihat Gold untuk tidak secepat itu akan berbalik arah menjadi bullish. Dilihat
dari pergerakannya secara teknikal, penembusan harga $1400.00 ke harga
tertinggi minggu lalu yaitu $1413.50 dapat dilihat hanya terjadi selama
15 menit. Dimana setelah itu XAUUSD kembali turun dan kahirnya masih ditutup dibawah $1400.00 yaitu pada harga closing $1383.80.
Ini menandakan tidak adanya pendukung bullish yang kuat untuk saat ini
ditambah lagi dengan pergerakan XAUUSD yang masih bimbang sepanjang
perdagangan membuat XAUUSD masih beresiko untuk kembali turun.
Posisi kami bagi XAUUSD adalah Bearish. Secara jangka menengah XAUUSD masih terlihat akan dalam sentimen bearish. Resistance
untuk minggu depan ada pada titik tertinggi XAUUSD pada harga $1413.50
dan setelah itu resistance paling dekat yang akan ditemui yaitu pada
harga $1422.00. Pada tingkat support akan ditemui pada
area $1470 dimana XAUUSD terpantau beberapa lama bergerak pada area ini
dan beresiko untuk melanjutkan penurunannya ke support pada harga $1353.
Support penting ada pada titik terendah pekan lalu pada harga $1338.00
dimana jika penembusan ini dapat terjadi maka XAUUSD akan turun dan
berusaha menembus harga $1421.00
Tag :
news,
Penjualan Indeks Saham Memperkuat Nilai Mata Uang Yen
By : Kang Rois
Dari Tokyo dilaporkan, Menteri Perekonomian Jepang menyatakan bahwa kejadian panic selling pada indeks saham Jepang tidak berarti sebuah kehancuran, melainkan hanya koreksi akibat kenaikan indeks saham Nikkei Jepang sebelumnya yang terjadi terlampau cepat dibanding ekspektasi sementara laju ekonomi masih stabil mengalami pemulihan.
Seperti dikutip dari Monexnews, Kamis (25/5/2013), Amari keluarkan pernyataan setelah indeks Topix Jepang anjlok 6.9%, kejatuhan terparah sejak tsunami Maret 2011. Fluktuasi liar tersebut juga menular pada pasar obligasi, dengan kenaikan yield tenor 10-tahun ke level tertinggi dalam setahun terakhir sehingga memaksa bank sentral menyuntik likuiditas sebesar 2 trilyun Yen.
Menurut Amari, bank sentral Jepang (BoJ) akan menjaga komunikasi yang erat dengan para pelaku pasar keuangan, dengan mengajak meeting pada 29 Mei nanti untuk mendiskusikan pergerakan market akhir-akhir ini.
Gubernur BOJ, Haruhiko Kuroda menyatakan kemarin bahwa fluktuasi yang terjadi pada pasar obligasi Jepang belum mempengaruhi arah ekonomi Jepang.
Diperdagangan sebelumnya, Yen melesat terhadap Dollar AS pasca kejatuhan saham yang dipicu data manufaktur China mendorong investor berbalik memburu mata uangsafe haven Jepang.
Meskipun penurunan saham lebih lanjut masih berpotensi menekan Greenback versus Yen, sejumlah analis memperkirakan tren pelemahan Yen akan tetap terjaga seiring berlanjutnya pelonggaran agresif di Jepang dan prospek pengetatan kebijakan di AS.
Tag :
news,
EUR/USD Incar Area 1,2790
By : AdminResesi yang kini dialami oleh kawasan zona-euro tampaknya dapat mendorong ECB untuk menurunkan suku bunga lebih lanjut.
Di lain pihak, bertambahnya bukti akan pemulihan ekonomi AS membuat investor khawatir Federal Reserve akan mengurangi program pembelian obligasi. Fed's Bernanke kemarin mengatakan bank sentral akan mengurangi jumlah pembelian obligasi jika pemulihan ekonomi berkelanjutan.
FOMC meeting minutes yang baru dirilis juga menunjukan keinginan sejumlah petinggi bank sentral untuk mengurangi stimulus secepatnya pada pertemuan Juni.
Peter Praet, anggota dewan moneter ECB, isyaratkan keinginan agar bank setral Eropa melonggarkan kebijakan moneter lebih lanjut.
"ECB dapat menggunakan instrumen kebijakan moneter jika diperlukan untuk memerangi resiko deflasi. Bank sentral tengah mengkaji berbagai kebijakan yang dapat mendorong penyaluran lebih banyak kredit di zona-euro," tutur Praet.
Investor kini menantikan serangkaian data manufaktur, dan jasa dari Perancis, Jerman, dan zona-euro yang akan dirilis mulai 14.00 WIB hingga 15.00 WIB untuk melihat kondisi ekonomi zona-euro. Jika data manufaktur dan jasa masih lemah maka ini dapat meningkatkan ekspektasi pelonggaran moneter lebih lanjut dari ECB.
Euro mencatatkan pelemahan tipis di awal sesi Asia seiring berbedanya outlook kebijakan moneter yang akan diterapkan oleh ECB jika dibandingkan dengan Fed.
Memasuki sesi perdagangan eropa, Kamis (24/5/2013), Secara tekhnikal level kunci pasangan EUR/USD berada diarea 1,2875.
Selama harga diperdagangkan dibawah area tersebut, pasangan EUR/USD berpotensi melemah dengan pelemahan menuju area 1,2790.
Di lain pihak, bertambahnya bukti akan pemulihan ekonomi AS membuat investor khawatir Federal Reserve akan mengurangi program pembelian obligasi. Fed's Bernanke kemarin mengatakan bank sentral akan mengurangi jumlah pembelian obligasi jika pemulihan ekonomi berkelanjutan.
FOMC meeting minutes yang baru dirilis juga menunjukan keinginan sejumlah petinggi bank sentral untuk mengurangi stimulus secepatnya pada pertemuan Juni.
Peter Praet, anggota dewan moneter ECB, isyaratkan keinginan agar bank setral Eropa melonggarkan kebijakan moneter lebih lanjut.
"ECB dapat menggunakan instrumen kebijakan moneter jika diperlukan untuk memerangi resiko deflasi. Bank sentral tengah mengkaji berbagai kebijakan yang dapat mendorong penyaluran lebih banyak kredit di zona-euro," tutur Praet.
Investor kini menantikan serangkaian data manufaktur, dan jasa dari Perancis, Jerman, dan zona-euro yang akan dirilis mulai 14.00 WIB hingga 15.00 WIB untuk melihat kondisi ekonomi zona-euro. Jika data manufaktur dan jasa masih lemah maka ini dapat meningkatkan ekspektasi pelonggaran moneter lebih lanjut dari ECB.
Euro mencatatkan pelemahan tipis di awal sesi Asia seiring berbedanya outlook kebijakan moneter yang akan diterapkan oleh ECB jika dibandingkan dengan Fed.
Memasuki sesi perdagangan eropa, Kamis (24/5/2013), Secara tekhnikal level kunci pasangan EUR/USD berada diarea 1,2875.
Selama harga diperdagangkan dibawah area tersebut, pasangan EUR/USD berpotensi melemah dengan pelemahan menuju area 1,2790.
Tag :
news,